Pelestari Sastra Aceh

Jasa-jasanya mendorong, mengembangkan dan melestarikan naskah-naskah sastra lama Aceh yang hampir punah menempatkannya sebagai orang yang patut dianugrahi bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Indonesia (Agustus 2003). Sastrawan kelahiran di Pidie, Aceh, 13 September 1954, ini berhasil mengalihaksarakan (transliterasi) 25 judul hikayat/tambeh/nazam Aceh, dari huruf Arab Melayu ke huruf Latin.

Alih aksara karya putera Teuku Sulaiman ini sangat penting bagi generasi muda mengingat sebagian besar dari mereka tidak lagi dapat membaca huruf Arab Melayu/Aksara Jawi.

Ayah dari Cut Naila Hafni, T.Idham Khalid dan T.Amalul Arifin buah perkawinannya dengan Mardhiah, ini juga telah menterjemahkan beberapa hikayat antara lain: Hikayat Aulia Tujoh, Hikayat Nabi Yusuf, Hikayat Akhbarul Karim, Hikayat Meudeuhak.

Pada tahun 2001 sastrawan yang tinggal di Nangroe Aceh Darussalam ini juga telah mendapat penghargaan sebagai Berprestasi unggulan peraih Kehati Award 2001 kategori “Citra Lestari Kehati” dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia.

sumber : http://www.tokohindonesia.com

Suhu Teater Indonesia

Terlahir dengan nama Liem Tjoan Hok, di Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937, Teguh Karya yang oleh rekan terdekatnya akrab dipanggil Om Steve, adalah sutradara film pelanggan piala citra. Dia layak disebut suhu teater Indonesia yang banyak melahirkan sineas-sineas terkemuka. Bagi para seniman ia dianggap sebagai bapak, guru, sekaligus teman.

Beberapa aktor-aktris film Indonesia yang layak disebut sebagai bentukan Teguh, sebab mereka menjadi berjaya dan populer setelah membintangi film-film Teguh Karya, antara lain Slamet Rahardjo Djarot, Nano Riantiarno, Christine Hakim, Franky Rorimpandey, Alex Komang, Dewi Yul, Rae Sahetapi, Rina Hasyim, Tuti Indra Malaon (Alm), George Kamarullah, Henky Solaiman, Benny Benhardi, Ninik L. Karim, dan Ayu Azhari.

Setali tiga uang, Teguh pun seakan menjadi abadi sebagai sutradara terbaik spesialis peraih Piala Citra, untuk setiap karya-karya film terbarunya. Dan bersamaan itu, film yang disutradarainya, sering pula terpilih menjadi film terbaik yang dianugerahi Piala Citra.

Sejumlah judul film karya Teguh yang berhasil mengangkat nama sutradara dan pemain bintangnya, diantaranya, Wajah Seorang Laki-Laki (1971), Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), Perkawinan Semusim (1977), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1979), Di Balik Kelambu (1982), Secangkir Kopi Pahit (1983), Doea Tanda Mata (1984), Ibunda (1986), dan Pacar Ketinggalan Kereta (1986).

Read the rest of this entry »

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970) yang menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999), ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini berobsesi mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Taufiq Ismail, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963, sekarang Institut Pertanian Bogor. Selain telah menerima Anugerah Seni Pemerintah RI juga menerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57).

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan, antara lain: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).

Selain itu, bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, Taufiq menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan, menyunting Prahara Budaya (1994).

Read the rest of this entry »

Andaikan Masih Hidup

Hari ini 100 tahun hari kelahiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA), 11 Februari 1908 di Natal, Sumatera Utara. Alangkah beruntungnya kita jika Sutan Takdir Alisjahbana (STA) masih hidup sekarang. Kita bisa banyak bertanya soal arah kebudayaan bangsa ini. Soal budaya yang hari-hari ini menjadi isu sangat relevan dalam kehidupan kita saat media massa sibuk memberitakan perdebatan mengenai RUU Pornografi dan Pornoaksi.

Bukankah STA adalah pemuja modernitas dari Barat? Mungkin kalimat itu yang bisa dilontarkan jika kita mengasumsikan pornografi adalah anak kandung modernitas dari Barat. Asumsi itu bisa jadi terlampau menyederhanakan masalah kebudayaan dan soal yang berkaitan dengan dunia syahwat.

Lepas dari perdebatan itu dan yang tak mungkin bisa dilupakan dari sosok STA ialah idenya yang berani soal arah kemajuan budaya bagi Indonesia. STA pada tahun 1935 dengan tegas menyebutkan, Barat, ke Baratlah, Indonesia harus melihat dan belajar jika ingin maju. STA melontarkan idenya itu pada usia 27 tahun.

Pokok-pokok pemikiran STA bukan hanya mengguncang masyarakat saat itu. Para pemikir dan budayawan seangkatannya seperti Ki Hajar Dewantara dan Sanusi Pane menanggapi pemikiran STA seraya mengingatkan STA bahwa Timur adalah arah kemajuan budaya yang harus dipertahankan Indonesia mendatang.

Memikat sekali untuk mencermati catatan almarhum Mochtar Lubis tentang STA. Menurut bapak jurnalis Indonesia itu, sumbangan utama STA yang harus tercatat dalam sejarah kebudayaan Indonesia ialah polemiknya yang penuh gairah menghadapi intelektual seniornya yang hendak mempertahankan nilai kebudayaan lama sebagai landasan kemajuan Indonesia. Perdebatan antara STA dengan para penentangnya belakangan dikenal dengan istilah Polemik Kebudayaan.

Jika dikaitkan dengan persoalan arah budaya Indonesia mendatang, termasuk perdebatan keras di masyarakat mengenai bagaimana negara mengatur soal pornografi, maka peluncuran buku Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana di Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (21/2) malam menjadi sangat relevan. Buku yang disunting A Abdul Karim Mashad bukan hanya berisi informasi mengenai karya tulis STA. Buku itu memuat juga sejumlah tulisan budayawan Indonesia yang mengkritisi pemikiran STA.

Hadir dalam peluncuran buku itu sastrawan Abdul Hadi, sejarawan Asvi Warman Adam dan para mahasiswa dan budayawan yang tampaknya sangat antusias mendiskusikan pikiran STA. Ratna Sarumpaet sempat pula membawakan puisi karya STA berjudul Menuju Ke Laut. “Kami telah meninggalkan engkau, Tasik yang tenang, tiada beriak, diteduhi gunung yang rimbun dari angin dan topan…”

Read the rest of this entry »

Andaikan Masih Hidup

Hari ini 100 tahun hari kelahiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA), 11 Februari 1908 di Natal, Sumatera Utara. Alangkah beruntungnya kita jika Sutan Takdir Alisjahbana (STA) masih hidup sekarang. Kita bisa banyak bertanya soal arah kebudayaan bangsa ini. Soal budaya yang hari-hari ini menjadi isu sangat relevan dalam kehidupan kita saat media massa sibuk memberitakan perdebatan mengenai RUU Pornografi dan Pornoaksi.

Bukankah STA adalah pemuja modernitas dari Barat? Mungkin kalimat itu yang bisa dilontarkan jika kita mengasumsikan pornografi adalah anak kandung modernitas dari Barat. Asumsi itu bisa jadi terlampau menyederhanakan masalah kebudayaan dan soal yang berkaitan dengan dunia syahwat.

Lepas dari perdebatan itu dan yang tak mungkin bisa dilupakan dari sosok STA ialah idenya yang berani soal arah kemajuan budaya bagi Indonesia. STA pada tahun 1935 dengan tegas menyebutkan, Barat, ke Baratlah, Indonesia harus melihat dan belajar jika ingin maju. STA melontarkan idenya itu pada usia 27 tahun.

Pokok-pokok pemikiran STA bukan hanya mengguncang masyarakat saat itu. Para pemikir dan budayawan seangkatannya seperti Ki Hajar Dewantara dan Sanusi Pane menanggapi pemikiran STA seraya mengingatkan STA bahwa Timur adalah arah kemajuan budaya yang harus dipertahankan Indonesia mendatang.

Memikat sekali untuk mencermati catatan almarhum Mochtar Lubis tentang STA. Menurut bapak jurnalis Indonesia itu, sumbangan utama STA yang harus tercatat dalam sejarah kebudayaan Indonesia ialah polemiknya yang penuh gairah menghadapi intelektual seniornya yang hendak mempertahankan nilai kebudayaan lama sebagai landasan kemajuan Indonesia. Perdebatan antara STA dengan para penentangnya belakangan dikenal dengan istilah Polemik Kebudayaan.

Jika dikaitkan dengan persoalan arah budaya Indonesia mendatang, termasuk perdebatan keras di masyarakat mengenai bagaimana negara mengatur soal pornografi, maka peluncuran buku Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana di Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (21/2) malam menjadi sangat relevan. Buku yang disunting A Abdul Karim Mashad bukan hanya berisi informasi mengenai karya tulis STA. Buku itu memuat juga sejumlah tulisan budayawan Indonesia yang mengkritisi pemikiran STA.

Read the rest of this entry »

Ahli Keramik Otodidak

Sumarah yang akrab dipanggil Nyonya Mara, seorang ahli keramik (keramolog) terkemuka di Indonesia. Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 21 Mei 1929. Kendati bukan arkeolog, ia menjadi ahli keramik secara otodidak, dengan dedikasi, minat, cinta dan kerja keras, ditopang penguasaan bahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Belanda. Suaminya, TK Adhyatman, juga penggemar keramik.

Nyonya Mara telah banyak menulis tentang keramik, antara lain: – Tempayan Martavans, Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta 1977; – Koleksi Keramik Adam Malik, Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta, 1980; – Keramik Kuna yang Ditemukan di Indonesia, Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta, 1981; dan – Koleksi Lukisan Ikon Adam Malik, Yayasan Derita Cita, 1982 Koleksi Lukisan Cina Adam Malik, Yayasan Derita Cita, 1983.

Suaminya, TK Adhyatman, juga penggemar keramik. Adhyatman adalah mantan sekretaris pribadi Almarhum Adam Malik, bekas wakil presiden RI, yang menaruh minat besar terhadap barang peninggalan kuno. Bahkan di Himpunan Keramik Indonesia yang mereka dirikan bersama Adam Malik, suami-isteri ini menjabat ketua dan wakil ketua (1973-1984). Mereka menjadi kurator koleksi keramik Adam Malik sejak 1979.

Nyonya Mara sering menyertai suaminya saat bertugas mendampingi Adam Malik berrkunjung baik di dalam maupun luar negeri. Kesempatan ini digunakannya mengunjungi berbagai museum di berbagai negeri, seperti Amerika, Kanada, Meksiko, Eropa, dan Asia. Di pelbagai daerah Indonesia, ia pun berhasil menemukan sejumlah keramik kuno. Ia juga beruntung mengenal Abu Ridho Sumoatmojo, kurator Museum Nasional Jakarta, yang membimbingnya sehingga berhasil menjadi ahli keramik ternama.

Nyonya Mara mengecap pendidikan Eerste Europeesche Lagere School di Tegal (1941), Taman Dewasa, Yogyakarta (1942), SMP Negeri, Pekalongan (1946), SMA, Pati/Jakarta (1949) dan Jurusan Inggris Akademi Nasional, Jakarta, sampai tingkat III, 1953.

Aktivitasnya yang lain adalah Sekretaris Women’s International Club (WIC) (1965-1966), Direktris PT Indonesian Planning Office (Indoplano) (1951- 1979) dan Komisaris PT Transindo Sakti dan PT Havilindo Utama, Jakarta sejak 1979.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com

Presiden Penyair Indonesia

Pria kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari ‘presiden penyair Indonesia’. Menurut para seniman di Riau, kemampuan Soetardji laksana rajawali di langit, paus di laut yang bergelombang, kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi.

Dia telah meraih sejumlah pengharaan atas karya-karya sastranya. Antara lain Hadiah Sastra ASEAN (1979), Hadiah Seni (1993), Anugerah Sastra Chairil Anwar (1998), serta Anugerah Akademi Jakarta (2007). Dia memiliki gaya tersendiri saat membacakan puisinya, kadang kala jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran dan tengkurap.

Penyair kondang lulusan FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara, ini pada ulang tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6/2008) malam, yang diperingati di Pekanbaru, Riau, mendapat apresiasi dan kejutan.

Kejutan pertama dari rekan-rekannya di Dewan Kesenian Riau berupa penerbitan kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku …Dan, Menghidu Pucuk Mawar Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan sastranya. Atau Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam kurun 1970-an hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku kumpulan puisinya, Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981).

Kejutan tak terduga kedua ialah dari seorang pencinta seni Riau yang tak disebutkan namanya berupa uang Rp 100 juta. Soetardji tentu berterimakasih atas apresiasi itu, walau dia terlihat biasa saja saat menerima hadiah Rp 100 juta itu. “Sehebat-hebat karya sastra yang dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi masyarakat,” ujarnya berterimakasih. Menurutnya, dia termasuk beruntung karena mendapat apresiasi.

Read the rest of this entry »

Bapak Seni Lukis Indonesia Modern

Dia pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pantas saja komunitas seniman, menjuluki pria bernama lengkap Sindudarsono Sudjojono yang akrab dipanggil Pak Djon iini dijuluki Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Dia salah seorang pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Jakarta tahun 1937 yang merupakan awal sejarah seni rupa modern di Indonesia.

Pelukis besar kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913, ini sangat menguasai teknik melukis dengan hasil lukisan yang berbobot. Dia guru bagi beberapa pelukis Indonesia. Selain itu, dia mempunyai pengetahuan luas tentang seni rupa. Dia kritikus seni rupa pertama di Indonesia.

Ia seorang nasionalis yang menunjukkan pribadinya melalui warna-warna dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Sehingga Pak Djon dan Basuki dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 1935.

Tapi beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan, ketika itu, menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.

Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo, kemudianmembawanya ke Batavia tahun 1925.

Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. Dia pun sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadie selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta.

Bahkan sebenarnya pada awalnya di lebih mempersiapkan diri menjadi guru daripada pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun tahun 1931.

Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis.

Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), 1937. Sebuah serikat yang kemudian dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan juru bicara Persagi.

Sudjojono, selain piawai melukis, juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.

Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul: Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.

Dalam komunitas seni-budaya, kemudian Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Dia sempat terpilih mewakili partai itu di parlemen. Namun pada 1957, ia membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia eksistensi Tuhan itu positif, sedangkan PKI belum bisa memberikan jawaban positif atas hal itu. Di samping ada alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga diduga menjadi penyebab Djon menceraikan istri pertamanya, Mia Bustam. Lalu dia menikah lagi dengan penyanyi seriosa, Rose Pandanwangi. Nama isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar Pandanwangi. Dari pernikahannya dia dianugerahi 14 anak.

Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa mudanya, Djon tergabung dalam kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri luar, bersama Maladi (bekas menteri penerangan dan olah raga) sebagai kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.

Itulah Djon yang sejak 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.

Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.

Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret 1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (USA, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998).

Sumber : http://www.tokohindonesia.com/

Perupa Perlawanan Penindasan

Dia perupa yang gigih menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lain yang termarjinalkan. Sejumlah lukisan pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, 11 Juni 1952, itu menggambarkan kondisi sebuah negeri yang menderita akibat ulah dan penindasan tersistem oleh manusia yang berkuasa. Putra Mayjen (Purn) Ricardo Siahaan, ini seorang aktivis murni, yang rela berkorban bagi sesama.

Pelukis yang terakhir menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional (2004), itu meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan, Rabu 23 Februari 2005 pukul 01.00 Wita. Jenazahnya disemayamkan di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Kamis 24 Februari 2005, setelah diadakan upacara pelepasan pukul 11.00.

Pria peranakan, ayah Batak dan ibu keturunan India, ini wafat saat berupaya membangun studionya di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, 16 kilometer di utara kota Tabanan, Bali. Saat itu, dia tiba-tiba terlihat lemas ketika mengawasi perataan tanah. Dia mengeluh rasa sakit di bagian dada. Kemudian kejang- kejang. Ahli gambar di atas kertas ini mengalami serangan jantung, yang merenggut nyawanya.

Sejumlah lukisan anak kedua dari enam bersaudara, ini bertema keseharian yang kritis merekam kebobrokan moral masyarakat. Salah satu lukisannya yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional berjudul Pizza. Lukisan berbentuk piza yang di dalamnya ada potongan-potongan segitiga seperti piza, cukup menggambarkan berbagai fenomena kehidupan saat ini. Di antaranya, penggambaran tentang penjungkirbalikan fakta yang sering terjadi.

Perupa kondang yang memilih hidup berpihak pada kaum tertindas itu sering menggambarkan kegetiran para kaum buruh dari penindasan majikan. Bahkan kepeduliannya kepada kaum buruh tertindas tidak hanya terpancar dari karya lukis dan patungnya. Dia pun aktif sebagai salah seorang pendiri Serikat Buruh Merdeka bersama H Pongke Princent.

Dia juga sangat peduli terhadap masalah lingkungan. Sejumlah lukisannya bertema keserakahan negara-negara kaya yang membabat hutan di negara-negara miskin. Lukisan itu ikut dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, 17- 31 Agustus 2004. Bahkan pada tahun 1980-an, dia juga aktif di Sekretariat Perlindungan Hutan Indonesia (Skepy) yang menentang pembabatan hutan di berbagai daerah.

Dalam beberapa karyanya, seniman yang tidak mau diatur oleh kurator dan tidak mau didikte dalam berkarya, itu juga memosisikan diri sebagai objek, tidak selalu sebagai subjek yang merekam objek saja. Seperti tergambar dari lukisannya Self Potrait with Black Orchid dan Buruh.

Semsar Siahaan, yang akrab dipanggil Sam, dikenal sebagai perupa yang kritis dan sering melakukan aksi protes. Pada saat kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981, dia pernah membakar karya lukisnya sendiri karena dianggap hanya bersifat suvenir. Ia menggali lubang-lubang kubur dan mengisinya dengan patung-patung mayat di dalam Bienalle Seni Rupa Jakarta IX di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Lalu, pelukis yang sering melakukan aksi demonstrasi di era pemerintahan Orde Baru, itu pun dipecat dari ITB karena melakukan aksi membakar patung berjudul Irian Dalam Tarso, karya pelukis Soenaryo, dosennya, yang dianggapnya sebagai seni kemasan yang mengeksploitasi orang Papua dan mendapatkan uang dari situ, sementara orang Papua tidak dapat apa-apa. Saat itu, dia membungkus patung karya Soenaryo, sehingga orang mengira itu patung karyanya sendiri. Patung itu dibakar, akibatnya dia dipecat dari ITB.

Dia pun pergi ke Prancis. Di sana dia mendalami seni lukis. Ia juga menyempatkan diri kuliah di San Francisco Art Institute. Bukan kali ini saja dia belajar seni di luar negeri. Ketika mengikuti ayahnya yang menjadi atase militer di Beograd, Semsar juga sempat kursus menggambar.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1984, dia kembali ke Tanah Air. Dia pun menunjukkan integritas dan dukungan pada gerakan mahasiswa yang prodemokrasi dengan menggelar pameran lukisan yang disertai diskusi keliling di sejumlah kampus di Pulau Jawa. Ketika itu, lagi-lagi membakar puluhan lukisannya di hadapan para aktivis.

Ketika Tempo, Editor dan Detik dibredel penguasa Orde Baru, dia pun ikut bergabung demonstrasi. Saat itu (27/6/1994), dia bahkan pasang badan melindungi seorang perempuan yang dianiaya aparat. Dia cedera berat, kakinya patah dan harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Namun, kakinya yang patah tidak bisa disembuhkan total, dia cacat. Dalam kondisi demikian, dia pun ikut membidani berdirinya Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) bersama aktivis pers lainnya di Indonesia.

Dia seperti punya dua nyawa, tak merasa takut mati. Namun, pada 1997, saat situasi politik dalam negeri dalam keadaan galau ditandai dengan penculikan terhadap beberapa aktivis, Semsar meninggalkan tanah air, pergi ke Kanada. Ia dibujuk sahabat ayahnya, sekalian untuk berobat.

Sepulang dari Kanada, dia pun memilih akan lebih baik tinggal menetap di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, 16 kilometer di utara kota Tabanan, Bali. Di sana dia punya tanah yang dibelinya dari seorang petani yang tanahnya tergadaikan karena tidak mampu membayar utang. Di atas tanah seluas lebih 3000 meter itu dia membangun studio.

Sejak 1 Januari 2005, dia telah memutuskan akan menetap di situ. Sebelumnya dia sempat berniat menetap Pematang Siantar, kampung leluhurnya atau di Banda Aceh, kampung putri Aceh yang pernah dinikahi dan memberinya seorang anak, namun meninggal dalam usia sehari. Namun, Semsar boleh berancana untuk hidup dan berkarya menetap di Jatiluwih, tetapi kehendak Tuhan jualah yang jadi. Dia dipanggil, menghadap kehadiratNya.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com

Empu Seni Tari Klasik Yogyakarta

Sasminta Mardawa, bernama kecil Soemardjono dan akrab dipanggil Romo Sas, kelahiran Yogyakarta, 9 April 1929, digelari sebagai empu seni tari klasik gaya Yogyakarta. Dia menghadirkan nuansa tersendiri dalam jagat tari klasik Indonesia, khususnya bagi pengayaan khazanah seni budaya yang adiluhung.

Dia berperan signifikan dalam pengembangan tari klasik gaya Yogyakarta. Seniman ini punya andil menjadikan tari klasik Jawa digemari oleh masyarakat nasional dan dunia, pada era modern abad kedua puluh satu ini. Dia seniman yang konsekuen pada jalur pengabdian sosial budaya secara utuh.

Romo Sas ada penari, guru, sekaligus koreografer yang telah melahirkan banyak seniman tari. Dia telah menciptakan lebih 100 gubahan tari-tarian klasik, gaya Yogyakarta. Baik tari tunggal untuk putra dan putri, maupun tari berpasangan dan tari fragmen. Di antara karya-karya tarinya yang sangat digemari adalah tari Golek, Beksan, Srimpi dan Bedhaya.

Read the rest of this entry »