Violis, Ogah Dipanggil Maestro

Violis ternama Idris Sardi sudah lama tak terdengar gesekan biolanya. Ternyata, ia juga tak luput dari kegalauan atas pelbagai kejadian yang menimpa bangsa dan negerinya. Saat rasa sakit masih sering mengganggu di perutnya, ia tetap sibuk kegiatan rekaman. Menyongsong datangnya peringatan hari lahirnya yang ke-65, 7 Juni 2003, rupanya Idris tengah mempersiapkan satu acara khusus.

Pertama, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Tuhan yang telah memberikan talenta besar kepadanya, dan berikutnya juga untuk tumpah darah yang ia cintai.

Melalui diskusi panjang, Sabtu (22/3) di Jakarta, Idris yang didampingi istrinya, Ratih Putri, dan Joan Henuhili Raturandang, mantan Putri Kawanua yang kini menangani JPR (pelaksana Konser 65 Tahun Idris Sardi), Idris memberi gambaran tentang acara yang akan ia gelar tanggal 18 Juni 2003 di sebuah hotel di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Violis yang sudah 58 tahun menggeluti biola dan tahun ini akan memperingati setengah abad menjadi pemusik profesional itu menyatakan, akan tetap memilih permainan biola dengan sentuhan roh etnis Indonesia, meski dari kecil ia juga mendapat latihan keras dalam permainan biola klasik Barat.

“Tuhan, kan, bukannya tanpa maksud apa-apa melahirkan saya di Indonesia. Pastilah saya dipesan untuk bisa memainkan keroncong, dan bahkan dangdut,” simpulnya. Itu juga menyebabkan mengapa Idris tetap memilih tinggal di Indonesia, walaupun ada tawaran untuk pindah ke Jepang dan Taiwan.

Read the rest of this entry »

Tenar dari Deraan Kemiskinan

Masa kanak-kanak dan remaja Ida Bagus Tilem terbelenggu di antara dinding-dinding kemelaratan. Lahir di desa Mas, Bali, 13 Desember 1939, Tilem berada di lingkungan keluarga pematung yang hidup serba kekurangan. Di masa kecilnya ia sudah berminat pada seni patung, yang akhirnya mendominasi seluruh kehidupannya.

Tidak seperti anak-anak sedesa yang menikmati kesenangan masa kecil, Tilem hampir setiap waktu duduk di atas tikar rotan di sisi ayahnya di rumah keluarga yang sempit, menyaksikan ayahnya mengolah batang kayu menjadi patung-patung yang indah.

Hidup di desa memang menyenangkan. Dan malam-malam yang menyenangkan bagi Tilem adalah mengikuti pamannya yang jadi dalang wayang kulit. Malam-malam lain, Tilem kecil mengikuti ayahnya yang mengadakan pertunjukan wayang orang dan tari topeng dari satu desa ke desa lainnya, serta mendengarkan kisah dari daun lontar yang dituturkan kakeknya.

Pengaruh sangat kuat dari dasar pemikiran dan filosofi hidupnya sejak usia remaja sampai saat ini yang masih ia hormati, telah menumbuhkan keinginan berkreasi yang menggebu-gebu di dalam dirinya. Ia berjam-jam berjuang bersama pahat dan potongan-potongan kayu sisa pahatan ayahnya.

Ayahnya, Ida Bagus Nyana, lahir tahun 1912, ketika mudanya diakui sebagai pemahat patung kayu yang sangat berbakat di Bali. Sebagai pria yang tenang dan penyabar, Ida Bagus Nyana, membiarkan putranya mengembangkan bakatnya yang tersembunyi, mengajarkan kepada anaknya tentang perlunya kesabaran, keuletan dan berkreasi secara total.

Read the rest of this entry »

Pencipta Lagu Anak-Anak

Ibu Soed, bernama lengkap Saridjah Niung Bintang Soedibio, kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 26 Maret 1908, seorang pencipta lagu anak-anak legendaris. Dia mencipta 200 lebih lagu anak-anak. Tokoh musik tiga jaman (Belanda, Jepang, Indonesia), ini pertama kali mengumandangkan suaranya di radio NIROM Jakarta 1927.

Ibu Sud juga mahir mengalunkan biola. Sebagai pemusik biola, dia ikut mengiringi lagu Indonesia Raya ketika pertama kali didengungkan di Gedung Pemuda 28 Oktober 1928.

Ibu Soed bernama asli Saridjah, bungsu dari dua belas orang bersaudara, putri Mohamad Niung, seorang pelaut berdarah Bugis yang kemudian menetap di Sukabumi, Jawa Barat menjadi pengawal Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, seorang indo-Belanda — beribukan keturunan Jawa ningrat. Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, pensiunan Vice President Hoogerechtshof (Kejaksaan Tinggi) di Jakarta, yang waktu itu menetap di Sukabumi mengangkat Saridjah sebagai anak.

Bakat musiknya terasah sejak kecil oleh ayah angkat yang mengasuhnya Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer. Di bawah pengasuhan sang ayah angkat, Saridjah mendapat pendidikan seni suara, seni musik dan belajar menggesek biola.

Setelah menamatkan pendidikan di Kweekschool, Bandung, Saridjah mengajar di HIS HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna (1925-1941). Di sini dia mulai mengajar anak-anak menyanyi. Dia prihatin melihat anak-anak Indonesia yang tampak kurang berbahagia. Lalu dia berpikir untuk menyenangkan anak-anak itu dengan menyanyi.

Read the rest of this entry »

Doktor Musik Kontemporer
Profesor psikologi musik ini bukan musisi biasa. Dia melahirkan fenomena budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Doktor musik bernama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli yang lebih dikenal dengan Harry Roesli dan dipanggil Kang Harry, ini meninggal dunia Sabtu 11 Desember 2004, pukul 19.55 di RS Harapan Kita Jakarta.

Musikus mbeling kelahiran Bandung, 10 September 1951 itu meninggal dunia dalam usia 53 tahun setelah menjalani perawatan jantung di rumah sakit tersebut sejak Jumat 3 Desember 2004. Kang Harry menderita serangan jantung juga hipertensi dan diabetes. Jenazah disemayamkan di rumah kakaknya, Ratwini Soemarso, Jl Besuki 10 Menteng, Jakarta Pusat dan dimakamkan 12 Desember 2004 di pemakaman keluarga di Ciomas, Bogor, Jabar.

Cucu pujangga besar Marah Roesli ini meninggalkan seorang isteri Kania Perdani Handiman dan dua anak kembar Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana. Pemusik bertubuh tambun ini melahirkan fenomena budaya musik populer yang tumbuh berbeda dengan sejumlah penggiat musik kontemporer lainnya. Dia mampu secara kreatif melahirkan dan menyajikan kesenian secara komunikatif. Karya- karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong.

Doktor musik alumni Rotterdam Conservatorium, Belanda (1981), ini terbilang sangat sibuk. Selain tetap berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.

Read the rest of this entry »

Cerpenis dari Lorong Pasar di Kisaran

Kemiskinan adalah bencana. Ia bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan pangan, tetapi meniadakan harapan dan cita-cita manusia. Maka, amarah dan dendam kerap muncul ketika orang berjalan terbongkok-bongkok dan ringsek memikul beban kemiskinan.

Cerpenis Hamsad Rangkuty (64) merasakan bencana itu sebagai hal nyata saat ayahnya, Muhammad Saleh Rangkuty, mengatakan tidak punya uang untuk membeli buku. Hamsad yang baru duduk di bangku kelas I SMA di Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada awal 1960, akhirnya harus berhenti sekolah.

Ia kembali ke kehidupan yang dia lakoni selama ini, yakni menemani ayahnya sebagai penjaga malam di pasar kota kecil, Kisaran, sekitar 150 kilometer dari Medan, Sumut. “Setiap kali saya berpapasan dengan pelajar SMA yang berangkat atau pulang sekolah, muncul dalam diri saya gejolak amarah dan dendam kepada Ayah,” ujar Hamsad.

Lahir 7 Mei 1943 di Medan, orangtuanya memberi nama Hasyim Rangkuty. Ketika masih balita, orangtuanya memboyong Hasyim pindah ke Kisaran, kota kecil yang dikelilingi perkebunan karet dan sawit. Dalam perjalanan waktu, Hasyim mengubah namanya menjadi Hamsad Rangkuty.

Read the rest of this entry »

Legenda Folk Song Batak

Gordon Tobing, musisi Batak legendaris. Bersama grupnya, Gordon telah memopulerkan lagu-lagu rakyat Batak ke seantoro dunia. Kepiawaian menyanyikan lagu rakyat Batak (Tapanuli) telah menggetarkan jutaan orang di puluhan negara di lima benua yang telah disinggahinya. Puluhan kepala negara telah menyambutnya dengan apresiasi yang amat berkesan.

Gordon, putera bangsa kelahiran Medan, 25 Agustus 1925, dibesarkan dalam keluarga pemusik. Ayahnya Romulus Lumbantobing juga seorang pemusik/komposer terkenal pada jamannya, dan pencipta lagu Arga Do Bona Ni Pinasa. Bakat musik ayahnya diwarisi Gordon. Sejak kecil, Gordon telah digembleng bermain musik dan olah vokal oleh ayahnya.

Gordon yang tidak pernah memperoleh pelajaran musik secara formal, tahun 1950 merantau ke Jakarta. Di Jakarta ia sempat berpindah-pindah pekerjaan, di anataranya sempat bekerja sebagai karyawan perusahaan Film Negara. Tapi lantaran merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu, kemudian ia pindah ke RRI (Radio Republik Indonesia).

Read the rest of this entry »

Sebuah Legenda Maestro Keroncong

Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu, ialah maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong yang menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia.

Dan, tak banyak pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa bertahan hingga usia 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam usianya yang ke-85 tahun, masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk Keroncong Asli Gesang itu diproduksi PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta, September 2002.

Peluncuran album rekaman itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Gesang ke-85, yang diadakan di Hotel Kusuma Sahid di Solo, Selasa (1/10) malam. Hendarmin Susilo, Presiden Direktur GMP, menyebutkan produksi album rekaman Gesang yang sebagian dibawakan sendiri Gesang, merupakan wujud kecintaan dan penghargaannya pada dedikasi sang maestro terhadap musik keroncong.

Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada 1982, 1988, 1999, dan 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939). Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, yang temanya menyinggung usia Gesang yang sudah senja seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan, dan tentu saja Bengawan Solo.

Read the rest of this entry »

Pendeta Penyair Wajah Cinta
Dr.Fridolin Ukur seorang pendeta penyair. Syair-syair mantan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (Sekum PGI) kelahiran Tamiyang Lajang, 5 April 1930, ini sarat dengan tema kemanusiaan (cinta kasih) dan keagungan Tuhan. Pendeta emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang suka memakai kopiah ini meninggal di Jakarta, 26 Juni 2003.

Sebelum manjadi pendeta, Fridolin memulai karir sebagai Tentara Nasional Indonesia (1946-1950). Pernah jadi anggota Divisi IV ALRI (kini TNI AL), kemudian masuk TNI-AD hingga berpangkat pembantu letnan. Setelah menyelesaikan sekolah pendeta di Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta (1956), ia ditahbiskan menjadi pendeta.

Dari sumber yang diperoleh TokohIndonesia.Com dari Gereja Kristen Evangelis (GKE), PGI dan BPK Gunung Mulia, Fridolin pertama kali bertugas sebagai Pendeta Mahasiswa (1956-1958). Kemudian melayani sebagai Pendeta Jemaat Gereja Kalimantan Evangelis (1958-1959) dan Dosen Akademi Teologi (1959-1970) serta staf di Lembaga Penelitian dan Studi (LPS) DGI. Tahun 1984-1989, ia dipilih menjabat Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Selepas itu, ia menjabat Rektor Akademi Teologi Gereja Kristen Evangelis (GKE) dan menjadi Pendeta Emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) hingga akhir hidupnya. Ia juga pernah aktif sebagai Direktur Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma) dan acap tampil mengisi acara kebaktian di RRI dan TVRI.

Fridolin Ukur, seorang pendeta yang suka memakai kopiah. Ia seorang pendeta yang humoris dan dekat dengan anak muda. Seorang pendeta yang tidak hanya larut dalam upaacara ritual, tepai juga menjadi garam dalam dunia kemanusiaan dan masalah sosial.

Sebagai penyair, Fridolin termasuk penyair Angkatan ‘66. Syair-syairnya banyak diterbitkan di berbagai media massa. Terakhir, juga diterbitkan dalam satu buku berjudul Wajah Cinta (BPK Gunung Mulia, 2003). Puisi-puisi yang ada dalam buku ini merupakan hasil perenungan dan kisah perjalanan hidup yang dikumpulkan sekian lama.

Kata demi kata dijalin. Kalimat demi kalimat diuntai menjadi satu nada, satu irama, berjiwa dan bermakna. Ungkapan hati, jiwa dan perasaaan dituturkan secara apik dan menyentuh hati. Rasa syukur, cinta, keagungan Tuhan, kepasrahan diri, kasih Tuhan, dan kasih kepada sesama tertuang melalui kata-kata yang sederhana, namun sarat makna yang memberi kesejukan di hati pembacanya.

Ia menamatkan sekolah dari SD sampai SMA di Banjarmasin (1942 sampai 1948). Semasa remaja, ia juga sempat ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan sebagai tentara (1946-1950). Namun, ‘jiwa pendeta’ yang sudah terasuh dalam diri anak seorang penilik sekolah ini tampaknya lebih membara. Sejak kecil ia dan saudara-saudaranya telah menerima pendidikan agama dari orangtuanya. Ditambah lagi dengan pertemuannya dengan pendeta Ethel Bert Saloh, seorang pendeta pribumi suku Dayak, yang menjadi inspirasi dan memperdalam pengetahuan agama Fridolin.

Kemudian, berkat dukungan orang tua, ia pun masuk kuliah Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STT Jakarta). Dua tahun pertama, orang tuanya terus mengirim uang untuk membiayai kuliahnya. Tetapi setelah pihak STT Jakarta melihat motivasi dan kesungguhannya menjadi pendeta, ia diberi beasiswa. Ia menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana theologia (STh) tahun 1956.

Kemudian ia meraih gelar Doktor Theologia dari STT Jakarta, dengan disertasi Tantang Jawab Suku Dayak, 1971. Berupa hasil penelitian antropologi budaya yang kemudian diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, 1971 dalam bentuk buku dengan judul Tantang Jawab Suku Dayak.

Fridolin juga pernah memimpin majalah Fiducia yang diterbitkan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Ia juga kolumnis di beberapa surat kabar nasional. Tulisan-tulisannya sangat menarik dan bermakna. Namanya juga mulai mencuat di dunia internasional sebagai penulis setelah tahun 1980, ia menjadi editor tamu International Review of Mission, yang diterbitkan Dewan Gereja Sedunia, dalam Sidang Raya di Melbourne. Saat itu, ia sempat keliling Australia.

Fridolin juga menulis beberapa buku. Satu di antaranya, berjudul: Tuaiannya Sungguh Banyak, diterbitkan BPK Gunung Mulia, 2002. Buku ini memaparkan keberadaan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), yang sebelumnya bernama Gereja Dayak Evangelis (GDE). Gereja ini mulai dirintis dengan kedatangan para penginjil Barat, mula-mula dari Zending Basel, kemudian dilanjutkan oleh Zending Barmen.

Fridolin Ukur, sebagai seorang putra Kalimantan, berupaya mengungkapkan pergumulan para penginjil Barat itu, yang kemudian dilanjutkan para pelayan gerejawi pribumi. Buku ini menguraikan betapa karya Tuhan yang amat besar di Indonesia sehingga kita pun dapat berseru, “Tuaiannya sungguh banyak!”

Fridolin meninggal di Jakarta, 26 Juni 2003 dan dimakamkan daerah kelahirannya, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com

Kyai Kanjeng Sang Pelayan
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.
Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Read the rest of this entry »

Pematung Monumen dan Diorama Sejarah

Edhi Sunarso, pematung beberapa monumen dan diorama sejarah yang tersebar di beberapa kota Indonesia. Di antaranya patung Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta. Karena karya-karyanya yang luar biasa, maka negara telah menganggapnya berjasa besar terhadap bangsa dan negara dalam meningkatkan, memajukan, dan membina kebudayaan nasional, sehingga pada 12 Agustus 2003 dianugrahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

“Selamat datang di Jakarta”, begitulah Tugu Selamat Datang menyambut kita setiap melintas dari bundaran HI dimana tugu tersebut berdiri. Begitu juga setiap kita melintas di prapatan Pancoran, kita sering dengan refleks menoleh ke atas, seakan-akan dalam hati bertanya, “masihkah Monumen Dirgantara ada diatas sana?” Begitulah respon kita dan mungkin respon semua orang dalam mengagumi hasil karya manusia yang selalu mengundang decak kagum tersebut. Namun mungkin hanya sedikit diantara kita yang mengetahui siapa orang yang sangat ahli membuat patung-patung tersebut.

Seni memang suatu hal yang berlaku dan bernilai universal. Tidak ada seorangpun yang tidak menyukai seni. Dan sebaliknya, tidak banyak orang yang mempunyai keahlian dan bakat seni. Dan hanya beberapa orang pula diantara orang-orang yang mempunyai bakat dan keahlian itu yang berhasil mencatatkan sejarah secara monumental karena jasanya yang cukup besar dalam meningkatkan dan membina kebudayaan nasional.

Read the rest of this entry »