Sastrawan, Sang Kepala Pencemoh

Ia salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Haji Ali Akbar Navis, lebih dikenal dengan nama AA Navis, yang di kalangan sastrawan digelari sebagai kepala pencemooh. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya. Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Penulis ‘Robohnya Surau Kami’ dan menguasai berbagai kesenian seperti seni rupa dan musik, ini meninggal dunia dalam usia hampir 79 tahun, sekitar pukul 05.00, Sabtu 22 Maret 2003, di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang. Indonesia kehilangan sastrawan fenomenal.

Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padangpanjang, 17 November 1924,ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para kopruptor. Maka pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justeru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.

Kini, ia telah pergi. Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Ia meninggalkan satu orang isteri Aksari Yasin yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini serta sejumlah 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.

Gemala Ranti, kepada Wartawan Tokoh Indonesia mengatakan sastrawan besar ini telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya itu untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa tidak bisa ikut Kongres di Bali pada Mei nanti. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka.

Sebelum dikebumikan sejumlah tokoh, budayawan, seniman, pejabat, akademis dan masyarakat umum, melayat ke rumah duka di Jalan Bengkuang Nomor 5, Padang. Di antaranya Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah A Syafii Maarif, Gubernur Sumbar Zainal Bakar, mantan Menteri Agama Tarmizi Taher, dan mantan Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin serta penyair Rusli Marzuki Sariah.

Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal Robohnya Surau Kami terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.

Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.

Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi bamyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.

Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan’. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.

Beberapa karyanya yang amat terkenal, selain Robohnya Surau Kami (1955) adalah Bianglala (1963), Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (editor 1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan Jodoh (1998).

Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Cerpenis gaek dari Padang, A.A. Navis pada 17 November lalu genap berusia 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an ada yang ditulis tahun 1950-an.

Padahal menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai. ”Tidak semua gagasan dan ide dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen,” katanya dalam suatu diskusi di Jakarta, dua tahun lalu.

Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? ”Soalnya, senjata saya hanya menulis,” katanya. Baginya menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. ”Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen,” katanya seperti dikutip Kompas. Minggu, 7 Desember 1997.

Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.

Ia juga menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.

Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan orang mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.

Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya.

Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. ”Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.

Hal ini tak terlepas dari mental korup para elit bangsa ini. Maka andai ia diberi pilihan alat kekuasaan, atau menulis dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Untuk apa? Untuk menyikat semua koruptor. Walaupun ia sadar bahwa mungkin justeru ia yang orang pertama kali ditembak. Sebab, ”semua orang tidak suka ada orang yang menyikat koruptor,” katanya seperti pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi.

Ia juga melihat Perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. Sekarang memang banyak pengarang lahir. Dulu juga banyak, cuma penduduk waktu itu 80 juta dan sekarang 200 juta. Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak.

Perihal orang Minang, dirinya sendiri, ia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Ia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah AA Navis Sang Kepala Pencemooh.

Bangun Pemudi Pemuda

Namanya terukir sebagai pencipta lagu nasional ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Judul lagu itu tampaknya selalu menjadi obsesi pria suku Batak kelahiran Parlombuan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 8 September 1920 itu. Hal itu setidaknya tercermin dari Karya Paparnya berjudul Membangun Manusia Pembangunan, saat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR. HC) atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University, 10 Februari 2001 di Jakarta.

Alfred Simanjuntak, seorang pencipta lagu yang berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. Saat menulis lagu Bangun Pemuda-Pemudi tersebut dia berusia 23 tahun (1943) dan bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang. Sebuah sekolah dengan dasar jiwa patriotisme yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Dr Bahder Djohan, Mr Wongsonegoro, dan Parada Harahap.

Obsesi kemerdekaan negeri dan membangun pemuda-pemudi Indonesia itu terus memenuhi benaknya hingga suatu kali saat sedang mandi Alfred terinspirasi menulis syair lagu itu. Kala itu dia seperti mendengar suara-suara melodi di telinganya. “Tuhan memberikan lagu ke kuping saya selagi lagi mandi. Saya cepat-cepat mandi, lalu saya tulis segera,” kisahnya.

Lagu Bangun Pemudi Pemuda itu digubahnya dalam suasana batin seorang anak muda yang gundah di negeri yang sedang terjajah. “Rasa ingin merdeka kuat sekali di kalangan anak muda saat itu. Kalau ketemu kawan, kami saling berucap salam merdeka!” tutur Alfred Simanjuntak di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten.

Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwanya. Sebab, gara-gara lagu yang dinilai sangat patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai, polisi militer Jepang untuk dihabisi.

Hingga saat ini, lagu itu masih tetap dikumandangkan, termasuk pada setiap perayaan Kemerdekaan RI 17 Agustus. Bahkan Band Cokelat pada album Untukmu Indonesia-ku juga merilis lagu itu. Juga oleh Paduan Suara Anak-anak Surya dalam album Kumpulan Lagu Wajib Indonesia Raya.

Alfred di masa kecil, hidup bersahaja tapi bahagia. Dia putera pasangan Guru Lamsana Simanjuntak-Kornelia Silitonga, delapan bersaudara. Dia mengenang saat makan nasi, daun singkong, dengan lauk ikan asin sebesar jari. Namun dia tetap mensyukuri ikan asin yang cuma seujung jari itu. Keluarga itu tetap hidup dalam sukacita.

Sukacita itu tercermin dari kegemarannya bernyanyi. Alfred sering tampil bernyanyi di acara Natal sejak duduk di Hollands Inlandsche School (HIS) di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara. Kemudian kemahiran musik Alfred berkembang ketika dia belajar di Hollands Inlandsche Kweek School atau semacam sekolah guru atas di Margoyudan, Solo, Jawa Tengah, 1935-1942.

Di sekolah itu jiwa nasionalisme Alfred menguat. Sebab di sekolah itu dia berkumpul dengan kawan-kawan dari berbagai daerah, suku dan budaya, seperti Manado, Ambon, Batak dan Jawa. “Rasa percaya diri kami sebagai satu bangsa sudah tertanam kuat,” kenang Alfred, yang akrab dipanggil Pak Siman dan fasih berbahasa Jawa.

Kemudian tahun 1950 – 1952, Alfred melanjut ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia, MO Bahasa Indonesia, Jakarta. Lalu tahun 1954 – 1956 berturut-turut melanjutkan belajar di Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke, Amsterdam, Nederland.

Pada tahun 1946-1949, dia sempat menjadi wartawan surat kabar “Sumber” di Jakarta. Sejak tahun 1950, ia bekerja penuh di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Jakarta, dan sempat menjadi pimpinannya. Akan tetapi, dia tetap aktif di musik. Tahun 1967 turut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan tahun 1985 memprakarsai Pesta Paduan Suara Rohani (Pesparani).

Dia juga juga terus menulis lagu. Pada tahun 1980, dia menulis lagu Negara Pancasila. Belakangan dia diminta Gus Dur menggubah Himne Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Alfred juga banyak mencipta lagu rohani. Bahkan dia pernah menulis lagu dalam irama dangdut, Terumbu Karang atas permintaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang akan disosialisasikan kepada masyarakat di kawasan pesisir Riau, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua.

Alfred kini telah menjadi ompung (kakek) dari 11 cucu yang lahir dari empat anaknya, yaitu Aida, Toga, Dorothea, dan John. Putri sulungnya, Aida Swenson-Simanjuntak, dikenal sebagai penggiat kelompok Paduan Suara Anak Indonesia. ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

================================================
Alfred Simanjuntak
Membangun Manusia Pembangunan
CATATAN REDAKSI: Pada 10 Februari 2001, Alfred Simanjuntak menerima gelas Doctor HC dari Saint John University, dengan Karya Papar berjudul MEMBANGUN MANUSIA PEMBANGUN. Berikut ini naskah elngkap karya papar Alfred Simanjuntak tersebut.

=================================================
Bangun Pemudi Pemuda
Ciptaan: A. Simanjuntak

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sumber : http://www.tokohindonesia.com

Pematung Adat Dayak

Tidak ada kata terlambat untuk menekuni sebuah pekerjaan yang dicintainya. Itulah yang dilakukan oleh dr Mayor (Purn) Alexander Hendrato Suryoprawiro (62) saat mulai menekuni seni patung Dayak pada usianya yang sudah menjelang 50 tahun.

Kini namanya dikenal di kalangan pencinta benda-benda etnis dan para kolektor patung-patung tradisional. Ratusan karyanya sudah tersebar di berbagai penjuru dunia karena sudah sangat sering menjadi cendera mata di lingkungan perusahaan pertambangan minyak di Kota Balikpapan.
Berbicara dengan Alex tentang seni patung dapat berlangsung berjam-jam. Pengetahuannya yang luas terhadap detail-detail pakaian adat berikut aksesorinya dari berbagai sub-etnis Dayak Kalimantan Timur sangatlah mengagumkan.
Ketika berlangsung bazar ekstravaganza yang digelar Balikpapan Expatriat Women Club (BEWC) beberapa waktu lalu, ia dengan telaten menjawab pertanyaan pengunjung tentang perbedaan khas pakaian adat Dayak Kenyah, Punan, Bahao, Tunjung-Benuaq, dan Lundaya.
“Sekarang sulit membedakan pakaian mereka karena relasi antarmereka lalu saling mempengaruhi. Tetapi ada yang khas pada Dayak Kenyah dan Bahao,” katanya. “Yaitu adanya aksesori yang terbuat dari bulu-bulu burung enggang dan burung terda yang panjang di kepala.”
Selain pengamatan dan pergaulannya dengan orang Dayak, model-model patung berikut pakaian adat dan aksesorinya dia pelajari dari buku-buku tentang Dayak terbitan lama, seperti Naga dan Burung Enggang karya Bernard Sellato dan A Journey Among the Peoples of central Borneo karya HF Tillema.
Lahir di Jakarta 25 Juni 1940, Alex menamatkan pendidikan dokternya di Universitas Airlangga (1967), kemudian masuk wajib militer dan diteruskan dengan militer sukarela sampai akhirnya berpangkat Mayor saat bertugas di Rumah Sakit Tentara Balikpapan. Tahun 1982, ia mundur dari dinas militer karena jiwa seninya ternyata lebih kuat memanggil.
Selama aktif di tentara, hobi melukisnya terus diasah. Konon, sejumlah jenderal pernah minta dilukis oleh Alex.
“Saya melukis sejak kecil. Ayah saya memang senang melukis,” kata anak juragan batik di Pekalongan itu.
Ia merasa beruntung, dulu sering bertugas ke pedalaman Kaltim dan bertemu banyak orang Dayak dari berbagai sub-etnis. Itulah modal dasarnya saat membuat model patung Dayak.
“Terus terang saya gelisah, budaya Dayak lama-lama akan punah dan anak cucu kita tidak akan pernah bisa menyaksikannya. Di sinilah saya berusaha melestarikan budaya mereka dalam bentuk tiga dimensi,” katanya memberi alasan kenapa ia memilih patung Dayak sebagai model.
Ia kemudian bercerita soal tradisi memanjangkan telinga di kalangan wanita Dayak Kenyah, Bahao, dan Punan. Katanya, “Di kalangan anak muda sekarang tradisi itu sudah tidak ada. Bahkan di kalangan orangtua pun sudah banyak yang malu berkuping panjang dan ada kecenderungan memotongnya. Saya berusaha mengabadikannya dalam bentuk tiga dimensi yang tentu berbeda dengan foto.”
***
Setelah mundur dari tentara, Alex sempat menjadi politikus dengan duduk sebagai anggota DPRD Balikpapan (1982-1987). Sampai dengan 1997, ia menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan dan sampai sekarang aktif di yayasannya. Tetapi di luar semua itu, dr Alex tetap aktif melukis.
Menjelang usia 50 tahun, ia berpikir untuk mengembangkan bakat lebih dalam dirinya yang merupakan anugerah Tuhan. Secara kebetulan ia bertemu dengan seorang rekannya yang sudah biasa membuat patung-patung rohani untuk keperluan gereja. Ia mulai tertarik. Katanya, “Ketika mencoba, ternyata saya langsung sreg.”
Bermula dari situ, Alex mengembangkan seni patungnya dengan membuat model patung Dayak. Alasannya sangat sederhana, patung serupa belum ada. Orang Dayak sendiri masih sebatas membuat patung atau ukiran dari kayu. Sedangkan patung yang dihasilkannya terbuat dari bahan campuran marmer dan resin yang mudah dibentuk dan kokoh ketika kering.
Dibantu dua orang karyawannya, di sela-sela kegiatannya sebagai dokter praktik dan berbagai kegiatan lainnya, Alex terus bergiat membuat patung-patung Dayak maupun patung lainnya. Ia yang membuat desain patung serta mengerjakan finishing dengan memberi sentuhan warna-warni maupun aksesorinya.
“Pekerjaan yang halus masih harus saya kerjakan sendiri sampai karyawan saya benar-benar dapat dipercaya,” katanya.
Untuk membuat patung-patung Dayak atau pernik-pernik kecil berornamen Dayak seperti tempat pensil, Alex pertama-tama membuat model dari tanah liat. Model yang sudah jadi itu kemudian dibuatkan cetakan lunak dari campuran silikon dan resin. Model patung berikut cetakannya itu kemudian dibungkus dengan cetakan keras yang terbuat dari campuran marmer dan resin.
Setelah dikeringkan 2-3 jam, model dari tanah liat itu kemudian dihancurkan, diganti dengan bubur marmer dan resin. Satu jam kemudian, cetakan siap dibongkar dan patung sudah jadi. Pekerjaan selanjutnya adalah mewarnai dan menambah aksesori, sehingga penampilannya benar-benar mirip orang Dayak. Ada yang sedang menari, ada yang sedang memadu kasih, ada yang siap berperang, dan bermacam-macam model penampilan tokoh warrior Dayak.
Pembuatan patung itu sendiri semula hanya sekadar hobi, tetapi lama-lama rumahnya penuh dengan patung. Lalu seorang rekannya menawari pameran. Ia pun bingung menentukan harga.
“Teman saya bilang bikin saja harga sesukamu. Jangan murah-murah. Ternyata ada juga yang beli,” katanya mengenang pameran perdananya.
Dalam pameran, yang banyak laku justru patung-patung kecil dengan harga Rp 250.000 – Rp 500.000. Patung berukuran sedang biasa dipesan perusahaan untuk cendera mata. Sedangkan patung besar yang harganya bisa Rp 30 juta ke atas, biasa dibeli para kolektor.
“Wali Kota Balikpapan sudah setuju menggunakan patung-patung ini sebagai cendera mata. Malah beliau minta dibuatkan model patung beruang madu,” kata Alex.
Beruang madu direncanakan akan menjadi maskot Kota Balikpapan sebagai simbol upaya melestarikan Hutan Lindung Sungai Wain yang menjadi habitat beruang itu.
***
Dari berbagai pameran, ia kemudian mulai dikenal sebagai pematung Dayak. Di arena pameran itu pula ia mendapat kritik atau masukan dari tokoh-tokoh adat Dayak yang semakin menyempurnakan karya-karyanya.
Kini, banyak peminat yang datang ke rumahnya, banyak juga yang memesan dalam jumlah banyak untuk cendera mata. Ia bermaksud membuka outlet untuk pemasaran di hotel atau bandar udara, tetapi tidak mungkin ia kerjakan sendiri. Karena itu, ia sangat antusias ketika Lembaga Pemberdayaan Dayak meminta koleksinya dipajang di kantornya yang merangkap gerai artshop di Balikpapan. Ketika ternyata kantor lembaga itu on-off on-off, ia terpaksa menarik semua koleksinya. “Kalau ada yang mau beli biar pesan,” katanya.
Banyak orang Dayak yang sudah mengenal dirinya dan karyanya, tetapi belum ada orang Dayak sendiri yang termotivasi untuk berbuat sesuatu bagi orang Dayak itu sendiri. Tuturnya, “Saya menunggu kok belum ada pemuda Dayak yang mau belajar kemari.”
Sekarang ia sangat ingin mewujudkan obsesinya membuat sebuah museum di Kalimantan Timur lengkap dengan isinya.
“Saya ingin membuat patung Dayak dalam ukuran raksasa yang monumental,” katanya. Untuk itu, proposal sudah ia kirimkan ke banyak instansi, tetapi belum juga mendapat respons.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com

Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.
Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya “pengultusan” terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global.
“Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa takabur,” katanya.
Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia sastra, Rabu (28/5/03).
Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit memosisikan Ajip sebagai “orang langka” dengan kelebihan yang tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio Sastrowardoyo.
Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya, kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan tradisional.
Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti, Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda, Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama kali diluncurkan tahun 1988.
Ajip juga dikenal sebagai “juru bicara” yang fasih menyampaikan tentang Indonesia kepada dunia luar. Hal ini ia buktikan ketika bulan April 1981 ia dipercaya mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Jepang, serta memberikan kuliah pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center.
Di Negeri Matahari Terbit itu, seminggu Ajip mengajar selama 18 jam dalam dua hari. Lima hari sisanya ia habiskan untuk membaca dan menulis. Ia mengaku, Jepang memberinya waktu menulis yang lebih banyak ketimbang Jakarta.
Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di Jepang.
Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan bacaan para dokter atau arsitektur.
Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia dini telah diperkenalkan dengan buku. “Anak kecil sejak umur dua hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku.”
Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. ” Harga majalah juga sama,” katanya.
Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji. Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal.
Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa Jepang. “Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing, misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-negara asing,” kata Ajip.
Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris.
Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun 1949.
Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60 mahasiswa di Tenri Daigaku.
“Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya Indonesia, dan Islam di Indonesia,” kata Ajip. Beberapa muridnya kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.
Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang, perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat. “Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina,” katanya Ajip.
Kendati telah menghabiskan sebagian hidupnya di negeri orang, Ajip tidak kehilangan pijakan pada kebudayaan daerah Indonesia. Hadiah Sastra Rancage yang lahir sejak tahun 1988 terus berjalan rutin setiap tahun.
“Saya mulai dengan serius, dan saya usahakan dengan serius. Ternyata banyak yang membantu. Orang mau membantu kalau (kegiatan yang dibantunya) dilaksanakan secara profesional,” tuturnya mengenai ketaat-asasan Hadiah Sastra Rancage.
Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, Ajip menyimpan sebersit kekhawatiran mengenai nasib kebudayaan-kebudayaan daerah. Bagi dia, globalisasi lebih banyak mengorbankan budaya-budaya daerah. Hal ini terjadi karena serbuan budaya global sulit diimbangi kebudayaan daerah.
Budaya global didukung oleh modal kuat serta teknologi tinggi, sedangkan kebudayaan daerah hanya bisa bertahan secara tradisional karena tidak ada yang menyediakan modal. Menurut Ajip, hal itu merupakan suatu pertarungan yang tidak adil.
“Saya kira kita tidak mengharapkan bahwa (pemeliharaan kebudayaan daerah) itu harus dilakukan pemerintah. Pengalaman saya membuktikan bahwa tidak bisa mengharapkan pemerintah,” ujar budayawan yang sudah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun.
Oleh karena itu, banyak sastrawan dan budayawan Indonesia menyambut dengan sukacita kedatangan Ajip ke Tanah Air. Ia pun telah merancang dengan sejumlah agenda menghidupkan kembali kebudayaan daerah agar tidak hanya mampu bertahan, melainkan juga bisa berkembang. Wujud konkretnya, antara lain dengan mendirikan Pusat Studi Sunda bersama para sastrawan dan budayawan Sunda pada hari Sabtu ini. Pusat Studi Sunda ini, salah satu programnya, akan menerbitkan jurnal ilmiah Sundalana.
Selain itu, Ajip masih tetap akan berkutat dengan kegiatan membaca dan menulis. Untuk itu, suami Hj Patimah ini pun berencana tinggal di Magelang, Jawa Tengah. “Saya berlindung kepada Allah, mudah-mudahan dijauhkan dari rasa takabur. Mudah-mudahan saya selalu diberi kesadaran bahwa apa yang saya lakukan hanyalah sebiji sawi.”
Paripurna
Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional.
Pandangan para sastrawan tentang Ajip Rosidi ini terangkum dalam dialog yang bertema Meninjau Sosok dan Pemikiran Ajip Rosidi, yang digelar Rabu (28/5/03), di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran Bandung.
Dalam dialog yang berlangsung sekitar enam jam itu, tampil sebagai pembicara Abdullah Mustappa, Teddy AN Muhtadin, Ganjar Kurnia, Ignas Kleden, Faruk HT, serta Yus Rusyana. Selain itu, hadir pula beberapa sastrawan seperti Ramadhan KH, Sitor Situmorang, tokoh politik Deliar Noer serta puluhan mahasiswa dan pencinta sastra.
“Sunda menjadi menarik di tangan Pak Ajip karena bukan sesuatu yang baku,” ujar pengamat sastra dari Universitas Gadjah Mada, Dr Faruk HT. Menurut dia, Ajip Rosidi mengalami polarisasi politik dan kultural sepanjang hidupnya. Faruk menganggap polarisasi politik dan kultural tersebut membuat karya-karya Ajip Rosidi terasa kaya makna, kritis, serta tidak terjebak hanya pada satu budaya dan ideologi.
Dia mencontohkan, ketika Ajip dielu-elukan sebagai orang yang berjasa dan terhormat dalam kehidupan sastra Sunda, Ajip justru menengok sastra Jawa dan sastra daerah lain. “Sulit mencari orang seperti Ajip dalam dunia sastra Indonesia,” kata Faruk.
Sementara itu, menurut Direktur Pusat Pengkajian Indonesia Timur (PPIT) atau Center for East Indonesian Affairs (CEIA) Dr Ignas Kleden, Ajip merupakan tokoh penting dalam sastra Indonesia. Ajip, kata Kleden, tidak hanya memainkan peranan luas dalam kesusastraan saja, namun juga meninggalkan banyak jejak langkah dalam perkembangan kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia.
“Sumbangan sastra dan kebudayaan Sunda kepada sastra dan kebudayaan Indonesia diwujudkan melalui penulisan kembali dalam bahasa Indonesia cerita-cerita sastra daerah,” kata Kleden.
Sedangkan peneliti dari Pusat Dinamika Pembangunan Unpad, Dr Ganjar Kurnia, memandang sosok Ajip sebagai orang Sunda modern. Hal itu dapat dilihat dari perhatiannya terhadap sastra Sunda. Ganjar menilai Ajip memiliki perhatian sepenuhnya untuk melestarikan budaya Sunda, namun dia juga tidak melepaskan keindonesiaannya.
“Ajip Rosidi bukan orang yang etnocentris, provinsialis, atau sukuisme dalam arti sempit,” kata Ganjar. Dia menambahkan, Ajip juga telah membawa budaya bangsa sampai kepada tingkat internasional. Selain itu, Ajip juga dinilai sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah kesundaan sehingga dapat dianggap sebagai “arsip hidup” paling lengkap.
“Dapatkah kita memiliki Ajip-Ajip yang lain di masa mendatang?” kata Faruk, di akhir ceramahnya.
Perkataan Faruk tersebut ternyata ditanggapi dengan kekhawatiran oleh Ajip Rosidi. Menurut Ajip, dia khawatir masyarakat akan mengultuskan dirinya. Padahal, kata Ajip, dia sangat tidak suka dipuji, apalagi dikultuskan. “Saya lebih suka dikritik daripada dipuji,” kata Ajip.

Sastra “Rancage” dan Sastra Daerah
Hadiah Sastra “Rancage” sudah berlangsung sejak 1989. Semula Hadiah Sastra tahunan ini khusus untuk pengarang dalam sastra Sunda, namun mulai tahun 1994 diberikan juga kepada pengarang sastra Jawa. Empat tahun kemudian, 1998, Hadiah Sastra “Rancage” juga diperuntukkan bagi pengarang sastra Bali. Sejak itu, setiap tahun Yayasan Kebudayaan “Rancage” yang diketuai Ajip Rosidi selaku pemberi Hadiah Sastra “Rancage” menyediakan dua hadiah untuk setiap daerah tersebut, yakni satu untuk “karya sastra” dan satu lagi untuk kategori mereka yang ber-”jasa”.
Seluruh suku bangsa di Indonesia saat ini merasa bahwa hidup matinya sastra daerah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. Padahal sesungguhnya perkembangan sastra daerah menjadi tanggung jawab nasional yang harus dihadapi secara nasional pula.
“Pengembangan sastra dan bahasa daerah seakan-akan diserahkan kepada suku bangsa pemiliknya begitu saja, pemerintah seperti tak mau tahu,” ujar sastrawan Ajip Rosidi, di Denpasar. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu berada di Bali dalam rangka menyerahkan Hadiah Sastra Rancage 1999 kepada para sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali.
Ajip Rosidi merasa prihatin atas keberadaan sastra dan bahasa daerah di Indonesia sekarang ini. Pemerintah nyaris tak memberi perhatian yang mamadai terhadap kehidupan sastra-sastra daerah tersebut. Padahal menurut konstitusi, hal itu termasuk tanggung jawab pemerintah.
“Masalah yang dihadapi daerah di mana-mana sama, masalah pendidikan dan penerbitan buku-buku,” ujar Ajip Rosidi. Pada tahun 1998 lalu, terbit enam judul buku berbahasa Sunda, dua bahasa Jawa, dan tiga bahasa Bali.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com

Pelukis

* Abdullah Surio Subroto
* A.D. Pirous
* Affandi
* Asri Nugroho
* Barli Sasmitawinata
* Basuki Abdullah
* Batara Lubis
* Chusin Setiadikara
* Delsy Syamsumar
* Hendra Gunawan
* Henk Ngantung
* I. B. Said
* Itji Tarmizi
* Lee Man Fong
* Lian Sahar
* Muhammad Faisal
* Muslim Saleh
* Nashar
* Odji Lirungan
* Pirngadie
* Raden Saleh
* Rusli
* Srihadi Soedarsono
* Sudarso
* S Sudjojono
* Tio Tjay
* Wahdi
* Wakidi

Lain-lain

* A. Rianto
* Andi Riyanto
* Acil Bimbo
* Affandi
* Agnes Monica
* Agus Djaya
* Ahmad Albar
* Ahmad Dhani (Dewa)
* Alam Surawidjaja
* Aminah Cendrakasih
* Ami Prijono
* Amir Pasaribu
* Ananda Sukarlan
* Andi Meriem Matalatta
* Andjar Any
* Anggun C. Sasmi
* Aom Kusman
* Arian Arifin a.k.a Arian 13
* Arman Maulana
* Asep Hidayat
* Ateng
* Basuki Abdullah
* Benny Mustapha
* Benny Panjaitan (Panbers)
* Benyamin Suaeb
* Bill Saragih
* Bing Slamet
* Bintang Sudibyo
* Bob Tutupoly
* Broery Marantika
* Bubi Chen
* Charles Hutagalung (Mercy’s)
* Charlotte Soetisno D. Poesponegoro
* Chendra Panatan
* Christine Panjaitan
* Chrisye
* Cynthia Maramis
* D. Djajakusuma
* Deddy Damhudi
* Deddy Mizwar
* Delsy Syamsumar
* Dewa Budjana
* Dewi Yul
* Dian Sastrowardoyo
* Diana Nasution
* Djaka Bimbo
* Djalal
* Djoko Pekik
* Doel Sumbang
* Dullah
* Dwiki Dharmawan
* Ebiet G. Ade
* Eddy Sud
* Elly Kasim
* Emilia Contessa
* Erwin Gutawa
* Eva Arnasz
* Fariz RM
* Franky Sahilatua
* Fifi Young
* Garin Nugroho
* Gatot Sunyoto
* Guruh Soekarnoputra
* Harry Roeslie
* Helmi Johannes
* Helmi Yahya
* Hendra Gunawan
* Hetty Koes Endang
* Idang Rasyidi
* Idris Sardi
* Iin Bimbo
* Inul Daratista
* Iravati Soediarso
* Ireng Maulana
* Iskak
* Ismail Marzuki
* Iwan Fals
* Jasir Syam
* Jaya Suprana
* Karmila Warouw
* Kartika Affandi
* Kiboud Maulana
* Kris Biantoro
* Krisdayanti
* Kus Hendratmo
* Liberty Manik
* Lilies Suryani
* Mariorossen
* Mansyur S.
* Maylaffayza Wiguna
* Meggy Z.
* Melly Goeslaw
* Muchsin Alatas
* Muchtar Embut
* Murry Koes Plus
* Nortier Simanungkalit
* Nurul Arifin
* Otto Djaya
* Popo Iskandar
* Pranajaya
* Pranawengrum
* Purwacaraka
* Raam Punjabi
* Rachmat Kartolo
* Reynold Panggabean (Mercy’s)
* Rhoma Irama
* Riann Pelor
* Rinto Harahap
* Rita Butar-butar
* Rose Pandanwangi
* Ruth Sahanaya
* S. Bagio
* S. Sudjojono
* Said Effendi
* Sal Murgiyanto
* Sam Bimbo
* Saira Syaharani Ibrahim
* Sarah Azhari
* Sherina Munaf
* Slamet Abdul Syukur
* Sophan Sophiaan
* Srihadi
* Sunaryo Joyopuspito
* Sundari Sukoco
* Tantowi Yahya
* Taufik Savalas
* Tetty Kadi
* Titi Kamal
* Titiek Puspa
* Titik Dwi Jayati
* Titik Sandhora
* Tonny Koeswoyo (Koes Plus)
* Tora Sudiro
* Trubus
* Usmar Ismail
* Victor Ganap
* WR Soepratman
* Waldjinah
* Yok Koeswoyo (Koes Plus)
* Yon Koeswoyo (Koes Plus)

Sumber : http://id.wikipedia.org

Penyair Indonesia

* Acep Zamzam Noor
* Afrizal Malna
* Agus R. Sarjono
* Mustofa Bisri
* Ahmadun Yosi Herfanda
* Amir Hamzah
* Badui U. Subhan
* Beni R Budiman
* Beni Setia
* Binhad Nurrohmat
* Chairil Anwar
* Dorothea Rosa Herliany
* Djamil Suherman
* Dani Kisai
* Dea Anugrah
* D. Zawawi Imron
* Goenawan Mohammad
* Hasan Aspahani
* Tendy Faridjan
* H.B. Yasin
* Jamal D. Rahman
* Joko Pinurbo
* Jose Rizal Manua
* Kusprihyanto Namma
* Medy Loekito
* Moch Satrio Welang
* Nanang Anna Noor
* Nur Wahida Idris
* Nirwan Dewanto
* Ook Nugroho
* Rayani Sriwidodo
* Remy Silado
* Sam Haidy
* Sapardi Djoko Damono
* Sitor Situmorang
* Saut Situmorang
* Saut Sitompul
* Mochammad Taufan Musonip
* Cecep Syamsul Hari
* Subagio Sastrowardoyo
* Sutan Takdir Alisyahbana
* Sutardji Calzoum Bachri
* Yoyong Amilin
* Taufiq Ismail
* Udo Z. Karzi
* Usmar Ismail
* Utuy Tatang Sontani
* Wahyu Prasetya
* Widji Thukul
* W.S. Rendra

Cerpenis

* Ali Akbar Navis
* Abidah el Khalieqy
* Ahmadun Yosi Herfanda
* Akmal Nasery Basral
* Armijn Pane
* A.S. Laksana
* Damhuri Muhammad
* Danarto
* Hamka
* Helvy Tiana Rosa
* Imam Muhtarom
* Irfan Hidayatullah
* Joni Ariadinata
* Korrie Layun Rampan
* Kuntowijoyo
* Lan Fang
* Leila S. Chudori
* Martin Aleida
* Palti R Tamba
* Raudal Tanjung Banua
* Sunlie Thomas Alexander
* Seno Gumira Ajidarma
* Taufik Ikram Jamil
* Wan Anwar
* Wisnu Sujianto
* Moch Satrio Welang

Novelis

* Aam Amilia
* Akmal Nasery Basral
* Andrea Hirata
* Armijn Pane
* Asma Nadia
* A.S. Laksana
* Ayu Utami
* Budi Darma
* Dewi Lestari
* Djamil Suherman
* Endik Koeswoyo
* Gola Gong
* Habiburrahman El Shirazy
* Marga T
* Mochtar Lubis
* Motinggo Busye
* Nh. Dini
* Pipiet Senja
* Pramoedya Ananta Toer
* Remy Silado
* Selasih
* Seno Gumira Adjidarma
* Sobron Aidit
* Suwarsih Djojopuspito
* Titie Said
* Titis Basino
* Titiek WS
* Y.B.Mangunwijaya
* Wahyu NH Al_Aly

Kritikus/Eseis

* Abdul Hadi WM
* Agus R. Sarjono
* Arif B. Prasetyo
* Budi Darma
* Dami N. Toda
* Emha Ainun Nadjib
* Goenawan Mohamad
* Jakob Sumardjo
* Maman S. Mahayana
* Nirwan Ahmad Arsuka
* Nirwan Dewanto
* Tendy Faridjan
* Wan Anwar
* Wahyu NH. Al_Aly

Lain-lain

* Aam Amilia
* A.A. Navis
* Abdul Hadi WM
* Abdul Muis
* Abdul Wahid Situmeang
* Acep Syahril
* Acep Zamzam Noor
* Achdiat K. Mihardja
* Achmad Munif
* A.D. Donggo
* Adinegoro
* Agus Noor
* Agus R. Sarjono
* Ahmad Subbanuddin Alwie
* Ahmad Tohari
* Ahmadun Yosi Herfanda
* Ahmad Yulden Erwin
* Ajip Rosidi
* Akmal Nasery Basral
* Amir Hamzah
* A. Mustofa Bisri
* Anak Agung Panji Tisna
* Andrea Hirata
* Andrei Aksana
* Ani Sekarningsih
* Anwar Putra Bayu
* Aoh K. Hadimadja
* Ariel Heriyanto
* Arie MP Tamba
* Arif B. Prasetyo
* Arifin C. Noer
* Ari Pahala Hutabarat
* Ari Setya Ardhi
* Arswendo Atmowiloto
* Armijn Pane
* Asma Nadia
* A.S. Dharta
* A.S. Laksana
* Asep S. Sambodja
* Asrul Sani
* Ayatrohaedi
* Ayu Utami
* B. Rahmanto
* Bagus Putu Parto
* Bambang Set
* Beni R. Budiman
* Beni Setia
* Beno Siang Pamungkas
* Binhad Nurrohmat
* Bokor Hutasuhut
* Bonari Nabonenar
* Bondan Winarno
* Budi Darma
* Budiman S. Hartoyo
* Budi P. Hatees
* Chairil Anwar
* Clara Ng
* Dad Murniah
* Dami N. Toda
* Danarto
* Darman Moenir
* Darmanto Jatman
* Dea Anugrah
* Dharmadi
* Dewi Lestari
* Dian Hartati
* Diani Savitri
* Dimas Arika Mihardja
* Dina Oktaviani
* Djamil Suherman
* Djenar Maesa Ayu
* Dorothea Rosa Herliany
* Dyah Merta
* Dyah Setyawati
* D. Zawawi Imron
* Endik Koeswoyo
* Eka Budianta
* Eka Kurniawan
* Eko Tunas
* Emha Ainun Nadjib
* Faruk HT
* FX Rudi Gunawan
* Gazali Burhan Rijodja
* Gerson Poyk
* Godi Suwarna
* Goenawan Mohamad
* Gola Gong
* Gus tf Sakai
* H.B. Jasin
* Habiburrahman El Shirazy
* Hamka
* Hamid Jabbar
* Hamsad Rangkuti
* Hartojo Andangdjaja
* Helvy Tiana Rosa
* Herman J. Waluyo
* Hersri Setiawan
* Ibnu Wahyudi
* Ibrahim Sattah
* Idrus
* Iggoy el Fitra
* Indra Cahyadi
* Indra Tranggono
* Intan Paramaditha
* Isbedy Stiawan ZS
* Iswadi Pratama
* Iwan Simatupang
* Iyut Fitra
* Jakob Sumardjo
* Jamal D Rahman
* Jamal T. Suryanata
* Jatmika Nurhadi
* Jeffry Alkatiri
* J.E. Tatengkeng
* Joni Ariadinata
* Joshua Lim
* Korrie Layun Rampan
* Kriapur
* Kuntowijoyo
* Kurnia Effendi
* Kuswinarto
* Kwee Tek Hoay
* Linda Christanty
* Linus Suryadi AG
* Lukman A Sya
* Maman S. Mahayana
* Mansur Samin
* Marah Roesli
* Marga T
* Marianne Katoppo
* Martin Aleida
* Max Ariffin
* Medy Loekito
* Melani Budianto
* Mh. Rustandi Kartakusuma
* Mochtar Lubis
* Moch Satrio Welang
* Mohammad Diponegoro
* Motinggo Busye
* M. Shoim Anwar
* Muhammad Kasim
* Mustafa W. Hasyim
* Nanang Anna Noor
* Nanang Suryadi
* Nazaruddin Azhar
* Nenden Lilis A
* Ngarto Februana
* Nh. Dini
* Nirwan Dewanto
* Noorca M. Massardi
* Nova Riyanti Yusuf
* Nugroho Notosusanto
* Nur Sutan Iskandar
* Nurochman Sudibyo.YS
* Nyoo Cheong Seng
* Oyos Saroso HN
* Palti R Tamba
* Pamusuk Eneste
* Panji Utama
* Parakitri T Simbolon
* Piek Ardijanto Soeprijadi
* Pipiet Senja
* Pramoedya Ananta Toer
* Primadonna Angela
* Putu Wijaya
* Radhar Panca Dahana
* Ragdi F. Daye
* Ramadhan K.H.
* Rachmat Djoko Pradopo
* Rachmat Nugraha
* Ratih Kumala
* Ratna Indraswari Ibrahim
* Remy Sylado
* Rieke Diah Pitaloka
* Rijono Pratikto
* Riris K. Sarumpeat
* Rosihan Anwar
* Rukmi Wisnu Wardani
* Rusman Sutiasumarga
* Saeful Badar
* Sanusi Pane
* Sarabunis Mubarok
* Saut Situmorang
* Sapardi Djoko Damono
* Selasih/Seleguri
* Seno Gumira Ajidarma
* Sholeh UG
* Sindhunata
* Sitok Srengenge
* Sitor Situmorang
* Slamet Sukirnanto
* SM Ardan
* SN Ratmana
* Sobron Aidit
* Soekanto SA
* Sony Farid Maulana
* Sosiawan Leak
* S. Sinansari ecip
* Subagio Sastrowardoyo
* Suman Hs
* Suminto A Sayuti
* Sunaryo Basuki Ks
* Suparto Brata
* Sutan Iwan Sukri Munaf
* Sutan Takdir Alisjahbana
* Sutardji Calzoum Bachri
* Suwarsih Djojopuspito
* S. Yoga
* Tajuddin Noor Gani
* Taufiq Ismail
* Teguh Winarso AS
* Timur Sinar Suprabana
* Titie Said
* Titis Basino
* Toety Heraty Nurhadi
* Toto Sudarto Bachtiar
* Trisnojuwono
* Trisno Sumardjo
* Triyanto Triwikromo
* T Wijaya
* Viddy AD Daery
* Udo Z. Karzi
* Ugoran Prasad
* Umar Junus
* Umar Kayam
* Umar Nur Zain
* Umbu Landu Paranggi
* Usmar Ismail
* Utuy Tatang Sontani
* W. Hariyanto
* W.S. Rendra
* Widjati
* Widji Thukul
* Wowok Hesti Prabowo
* Yonathan Rahardjo
* Yudhistira ANM Massardi
* Yusach Ananda
* Y. Wibowo
* Zainal Afif
* Zainuddin Tamir Koto
* Zen Hae
* Zoya Herawati
* A.A. Pandji Tisna
* Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
* Achdiat K. Mihardja
* Adinegoro
* Ajip Rosidi
* Ali Akbar Navis
* Amal Hamzah
* Amir Hamzah
* Aoh K. Hadimadja
* Armijn Pane
* Asrul Sani
* Ayatrohaedi
* Bokor Hutasuhut
* Chairil Anwar
* Djamil Suherman
* Hamka
* Idrus
* Iwan Simatupang
* Mansur Samin
* Marah Rusli
* Mochtar Lubis
* Motinggo Busye
* Zen Ibrahim
* Nenek Mallomo
* Nur Sutan Iskandar
* Pramoedya Ananta Toer
* Pipiet Senja
* Ramadhan K.H.
* Rifai Apin
* Sanusi Pane
* Sapardi Djoko Damono
* Sitor Situmorang
* Sutan Takdir Alisyahbana
* Suwarsih Djojopuspito
* Taufiq Ismail
* Titis Basino
* Titie Said
* Toha Mochtar
* Tulis Sutan Sati
* Udo Z. Karzi
* Utuy Tatang Sontani
* W.S. Rendra
* Widji Thukul
* Wisran Hadi

Sumber : http://id.wikipedia.org

Tokoh Fisika

Posted by: admin in Tokoh Fisika 2 Comments »

Tokoh Fisika

Ilmuwan ialah orang yang bekerja dan mendalami dengan tekun bidang ilmu pengetahuan sains yang termasuk didalamnya bidang ilmu alam atau ilmu sosial. Para ilmuwan yang terjun dalam bidang fisika disebut fisikawan. budakfisika.net telah mereview profil beberapa tokoh-tokoh fisika ini, apabila ada tokoh fisika yang belum tercantumkan, mohon bantuannya untuk memberi tahu.

Berikut ini ialah fisikawan yang telah menyumbangkan ide dan pikiran selama hidupnya yang berguna dalam kehidupan kita sehari-hari :

Fisikawan :

1. Albert Einstein
2. Alessandro Volta
3. Archimedes
4. Aristoteles
5. Arthur Compton
6. Bacharuddin Jusuf Habibie
7. Blaise Pascal
8. Carl Friedrich Gauss
9. Charles-Augustin de Coulomb
10. Christian Doppler
11. Daniel Bernoulli
12. Daniel Gabriel Fahrenheit
13. Democritus
14. Edwin Hubble
15. Enrico Fermi
16. Ernst Mach
17. Ernest Rutherford
18. Erwin Schrödinger
19. Evangelista Torricelli
20. Galileo Galilei
21. Georg Ohm
22. Gottfried Wilhelm Leibniz
23. Gustav Robert Kirchhoff
24. Giovanni Battista Venturi
25. Hans Christian Ørsted
26. Heinrich Rudolf Hertz
27. Hermann von Helmholtz
28. Hendrik Lorentz
29. Irving Langmuir
30. James Clerk Maxwell
31. James Chadwick
32. James Watt
33. Jean-Baptiste Biot
34. Johannes Diderik van der Waals
35. Johannes Kepler
36. John Dalton
37. John Henry Poynting
38. John J. Montgomery
39. Joseph Fourier
40. Joseph Henry
41. Joseph Louis Gay-Lussac
42. Joseph-Louis Lagrange
43. Joseph Plateau
44. Lord Rayleigh
45. Louis-Victor de Broglie
46. Leonhard Euler
47. Ludwig Boltzmann
48. Marie Curie
49. Max Planck
50. Michael Faraday
51. Niels Bohr
52. Nikola Tesla
53. Oliver Heaviside
54. Osborne Reynolds
55. Pierre Curie
56. Robert Boyle
57. Thomas Alfa Edison
58. Thomas Townsend Brown
59. Robert Hooke
60. Robert J. Van de Graff
61. Robert Andrews Millikan
62. Sir Isaac Newton
63. Stephen Hawking
64. Werner Heisenberg
65. Wilhelm Conrad Röntgen
66. Wolfgang Ernst Pauli

Sumber : http://www.budakfisika.net

1. Dani Firmansyah A.K.A Xnuxer
Xnuxer(di dunia maya), nama panggilan Dani Firmansyah di dunia bawah tanah, di tangkap Satuan Cyber Crime Direktorat Reserse Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya pada tanggal 24 April 2004 sekitar pukul 17:20 di Jakarta.

Jumat 16 April, Xnuxer mencoba melakukan tes sistem sekuriti kpu.go.id melalui XSS (cross site scripting) dari IP 202.158.10.117, namun dilayar keluar message risk dengan level low (website KPU belum tembus atau rusak).
Sabtu 17 April 2004 pukul 03.12,42, Xnuxer mencoba lagi melakukan penetrasi ke server tnp.kpu.go.id dengan cara SQL Injection dan berhasil menembus IP tnp.kpu.go.id 203.130.201.134, serta berhasil meng-up date daftar nama partai pada pukul 11.23,16 sampai pukul 11.34,27. Teknik yang dipakai Xnuxer dalam meng-hack yakni melalui teknik spoofing (penyesatan). Xnuxer melakukan serangan dari IP 202.158.10.117, kemudian membuka IP Proxy Anonymous Thailand 208.147.1.1 sebelum msuk ke IP tnp.kpu.go.id 203.130.201.134, dan berhasil membuka tampilan nama 24 partai politik peserta pemilu.
Beruntung Xnuxer meng-hack situs KPU hanya karena ingin mengetes keamanan sistem keamanan server tnp.kpu.go.id, tanpa ada muatan politik. Di tambah, sifat Xnuxer yang sangat cooperatif, akhirnya Xnuxer hanya di bui beberapa bulan saja.

2. Onno W. Purbo A.K.A Kang Onno

Onno Widodo Purbo (lahir di Bandung 17 Agustus 1962; umur 45 tahun) adalah seorang tokoh (yang kemudian lebih dikenal sebagai pakar di bidang) teknologi informasi asal Indonesia. Ia memulai pendidikan akademis di ITB pada jurusan Teknik Elektro pada tahun 1981. Enam tahun kemudian ia lulus dengan predikat wisudawan terbaik, kemudian melanjutkan studi ke Kanada dengan beasiswa dari PAU-ME.
RT/RW-Net adalah salah satu dari sekian banyak gagasan yang dilontarkan. Ia juga aktif menulis dalam bidang teknologi informasi media, seminar, konferensi nasional maupun internasional. Percaya filosofy copyleft, banyak tulisannya dipublikasi secara gratis di internet.
Pejuang kemerdekaan frekuensi 2.4 GHz, VOIP-Rakyat, dan Antena Wifi dari kaleng.

3. I Made Wiryana A.K.A Pak Made

Cyber Paspampres nih, konon website dan server President SBY beliau yang pegang untuk maintenance dan keamanannya… (pernah digempur ampe DDos, namun dalam waktu itungan detik back-up server –ga tau dah back-up yang nomor berapa– langsung up).
Beliau juga pelopor perkembangan linux di indonesia bersama pak Rusmanto (redaktur Info Linux). menyelesaikan pendidikan di dua institusi pendidikan yaitu S1-Fisika Universitas Indonesia pada tahun 1991 dan S1-manajemen Informatika STIMIK Gunadarma tahun 1992 dan melanjutkan Magister di eidith cowan university Australia dan sejak tahun 2004 sampai sekarang sedang menyelesaikan program Doktoral di RVS Bielfield Jerman. Dan sekarang berdomisili di Jerman. Status pekerjaannya adalah Dosen Tetap universitas Gunadarma.

Sumber : http://bejatduatiga.blogspot.com


Hacker adalah orang yang mempelajari, menganalisa, dan selanjutnya bila menginginkan, bisa membuat, memodifikasi, atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti program komputer, administrasi dan hal-hal lainnya , terutama keamanan.

Berikut beberapa profile 14 Hacker Terbaik Dunia untuk saat ini :
1. Kevin Mitnick
Kevin adalah hacker pertama yang wajahnya terpampang dalam poster “FBI Most Wanted”.Kevin juga seorang “Master of Deception” dan telah menulis buku yang berjudul “The Art of Deception”.Buku ini menjelaskan berbagai teknik social engineering untuk mendapatkan akses ke dalam sistem.

2. Linus Torvalds
Seorang hacker sejati, mengembangkan sistem operasi Linux yang merupakan gabungan dari “LINUS MINIX”.Sistem operasi Linux telah menjadi sistem operasi “standar” hacker.Bersama Richard Stallman dengan GNU-nya membangun Linux versi awal dan berkolaborasi dengan programmer, developper dan hacker seluruh dunia untuk mengembangkan kernel Linux.
3. John Draper
Penemu nada tunggal 2600 Herz menggunakan peluit plastik yang merupakan hadiah dari kotak sereal.Merupakan pelopor penggunaan nada 2600 Hz dan dikenal sebagai Phone Phreaker (Phreaker, baca: frieker)Nada 2600 Hz digunakan sebagai alat untuk melakukan pemanggilan telepon gratis.Pada pengembangannya, nada 2600 Hz tidak lagi dibuat dengan peluit plastik, melainkan menggunakan alat yang disebut “Blue Box”.
4. Mark Abene
Sebagai salah seorang “Master of Deception” phiber optik, menginspirasikan ribuan remaja untuk mempelajari sistem internal telepon negara. Phiber optik juga dinobatkan sebagai salah seorang dari 100 orang jenius oleh New York Magazine.
Menggunakan komputer Apple , Timex Sinclair dan Commodore 64.
Komputer pertamanya adalah Radio Shack TRS-80 (trash-80).
5. Robert Morris
Seorang anak dari ilmuwan National Computer Security Center yang merupakan bagian dari National Security Agencies (NSA).
Pertama kali menulis Internet Worm yang begitu momental pada tahun 1988.
Meng-infeksi ribuan komputer yang terhubung dalam jaringan.
6. Richard Stallman
Salah seorang “Old School Hacker”, bekerja pada lab Artificial Intelligence MIT.Merasa terganggu oleh software komersial dan dan hak cipta pribadi.Akhirnya mendirikan GNU (baca: guhNew) yang merupakan singkatan dari GNU NOT UNIX.Menggunakan komputer pertama sekali pada tahun 1969 di IBM New York Scintific Center saat berumur 16 tahun.
7. Kevin Poulsen
Melakukan penipuan digital terhadap stasiun radio KIIS-FM, memastikan bahwa ia adalah penelpon ke 102 dan memenangkan porsche 944 S2.
8. Ian Murphy
Ian Muphy bersama 3 orang rekannya, melakukan hacking ke dalam komputer AT&T dan menggubah seting jam internal-nya.Hal ini mengakibatkan masyarakat pengguna telfon mendapatkan diskon “tengah malam” pada saat sore hari, dan yang telah menunggu hingga tengah malam harus membayar dengan tagihan yang tinggi.
9. Vladimir Levin
Lulusan St. Petersburg Tekhnologichesky University.Menipu komputer CitiBank dan meraup keuntungan 10 juta dollar.Ditangkap Interpol di Heathrow Airport pada tahun 1995
10. Steve Wozniak
Membangun komputer Apple dan menggunakan “blue box” untukkepentingan sendiri.
11. Tsutomu Shimomura
Berhasil menangkap jejak Kevin Mitnick.
12. Dennis Ritchie dan Ken Thomson
Dennis Ritchie adalah seorang penulis bahasa C, bersama Ken Thomson menulis sistem operasi UNIX yang elegan.
13. Eric Steven Raymond
Bapak hacker. Seorang hacktivist dan pelopor opensource movement.Menulis banyak panduan hacking, salah satunya adalah: “How To Become A Hacker” dan “The new hacker’s Dictionary”.
Begitu fenomenal dan dikenal oleh seluruh masyarakat hacking dunia.Menurut Eric, “dunia mempunyai banyak persoalan menarik danmenanti untuk dipecahkan”.
14. Johan Helsingius
Mengoperasikan anonymous remailer paling populer didunia.



Sumber : http://devit1104.blogspot.com

Presiden
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Wakil Presiden
MUHAMMAD JUSUF KALLA

Menteri Koordinator

Menko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
WIDODO AS

Menko Bidang Perekonomian
ABURIZAL BAKRIE (2004-2005)
BOEDIONO (2005-2009)

Menko Bidang Kesejahteraan Rakyat
PROF DR ALWI SHIHAB (2004-2005)
ABURIZAL BAKRIE (2005-2009)

Nenteri Negara Sekretaris Negara
IR HATTA RAJASA (2007-2009)
PROF YUSRIL IHZA MAHENDRA (2004-2007)

Menteri Sekretaris Kabinet
SUDI SILALAHI

Menteri yang Memimpin Departemen

Menteri Dalam Negeri
MAYJEN TNI (PURN) H MARDIYANTO
LETJEN TNI (PURN) M. MA’RUF

Menteri Luar Negeri
HASSAN WIRAYUDA

Menteri Pertahanan
PROF. DR. JUWONO SUDARSONO

Menteri Hukum dan HAM
ANDI MATALATA, SH (2007-2009)
DR HAMID AWALUDIN (2004-2007)

Menteri Keuangan
JUSUF ANWAR (2004-2005)
DR SRI MULYANI INDRAWATI (2005-2009)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
PURNOMO YUSGIANTORO

Menteri Perindustrian
ANDUNG NITIMIHARDJA (2004-2005)
FAHMI IDRIS (2005-2009)

Menteri Perdagangan
MARI E PANGESTU

Menteri Pertanian
ANTON APRIYANTONO

Menteri Kehutanan
M.S. KABAN

Menteri Perhubungan
JUSMAN SYAFII DJAMAL (2007-2009)
IR HATTA RADJASA (2004-2007)

Menteri Kelautan dan Perikanan
FREDDY NUMBERI

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
FAHMI IDRIS (2004-2005)
ERMAN SUPARNO (2005-2009)

Menteri Pekerjaan Umum
DJOKO KIRMANTO

Menteri Kesehatan Masyarakat
SITI FADILAH SUPARI

Menteri Pendidikan Nasional
PROF DR BAMBANG SUDIBYO

Menteri Sosial
BACHTIAR CHAMSYAH

Menteri Agama
M MAFTUH BASYUNI

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata
JERO WACIK

Menteri Komunikasi dan Informatika
PROF DR MUHAMMAD NOEH (2007-2009)
Dr. SOFYAN DJALIL (2004-2007)

Menteri Negara

Menteri Negara Riset dan Teknologi
DR KUSMAYANTO KADIMAN

Menteri Negara Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
SURYADHARMA ALI

Menteri Negara Lingkungan Hidup
IR. RACHMAT WITOELAR

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan
MEUTIA HATTA

Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
TAUFIQ EFFENDI

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
PASKAH SUZETTA (2005-2009)
DR SRI MULYANI INDRAWATI (2004-2005)

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
Dr. SOFYAN DJALIL (2007-2009)
SUGIHARTO (2004-2007)

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga
ADYAKSA DAULT

Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal
M LUKMAN EDY (2007-2009)
SAIFULLAH YUSUF (2004-2007)

Menteri Negara Perumahan Rakyat
M YUSUF ASHARI

Pejabat Berkedudukan Setingkat Menteri

Jaksa Agung
HENDARMAN SUPANDJI (2007-2009)
ABDUL RAHMAN SALEH (2004-2007)

Panglima TNI
Djoko Santoso
MARSEKAL DJOKO SOEYANTO
Erman Suparno

Sumber : http://www.tokohindonesia.com